beritadunesia-logo

Teh Susu Telor

Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam. Namun di Jalan Puri, salah satu tempat di Kecamatan Medan Area, sebuah kehidupan baru mulai menggeliat. Ratusan sepeda motor berjajar tak beraturan di kiri- kanan jalan yang tak lebih dari empat meter itu.

Ratusan orang baik tua-muda, laki-laki dan perempuan punya tujuan yang sama. Menikmati segelas teh susu telur.

Sudah lama sekali saya tak datang ke tempat ini. Namun suasananya tak berbeda jauh dengan kunjungan terakhir saya ke sini. Tetap saja ramai, penuh gelak tawa dan tentu saja ngangenin.

Malam itu kami ingin mencicipi kembali kehangatan segelas TST yang terkenal itu. Setelah memasuki salah satu kafe, kami langsung memesan dua gelas TST.

Di pojok rungan lain, ada dua pria bule tengah menikmati kopi susu, yaitu kopi dengan gula dan susu kental manis. Sayang, mereka tak mencoba mencoba teh susu telur, minuman khas Medan yang terkenal itu.

Sementara di belakang gerobak, pemilik kafe sedang meracik pesanan kami. Setelah menuang susu dan memasukkan sebutir telur (hanya kuningnya saja) ke dalam gelas, ia lalu menambahkan dua sendok gula, dan meraciknya dengan cepat.

Dengan sedikit kerja keras, ia mengubah telur dan gula tadi menjadi busa tebal berwarna kuning pucat yang mampu membuat iri setiap pembuat kue.

Dalam cangkir terpisah, ia merebus daun teh yang dituangnya dari sebuah termos, lalu menyaringnya ke dalam gelas berlumur krim telur. Ia kemudian mencampur teh tersebut dengan telur dan membuat busa mirip café latte.

Sambil mengikuti sesama penyeruput teh telor lainnya, kami menuangkan setengah gelas teh telor tersebut ke dalam piring - untuk mendinginkannya serta menciptakan kenikmatan tanpa bekas busa telur dan gula di bibir.

Saya mencoba meresapi kehangatan TST yang sudah tersaji di depan kami. Rasa manis susu bercampur kelatnya teh menciptakan sensasi hangat saat air berwarna kuning pucat itu menyentuh tenggorokan lalu mengalir perlahan ke dalam perut. Benar-benar sedaaaap. Tak sedikit pun tercium aroma amis di situ. Saya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Yang saya tahu, kerinduan akan kehangatan segelas TST Puri ini lenyap sudah.

Yah, di kawasan Jalan Puri ini hampir di setiap jengkalnya berdiri kafe-kafe dengan menu seragam, TST. Perbedaanya hanya terletak pada kreativitas si empunya kafe agar tempat dagangannya selalu ramai.

Ada kafe dilengkapi fasilitas televisi lengkap dengan siaran tivi kabel yang menayangkan langsung siaran Liga Inggris. Ada juga kafe yang full music. Semua terkesan biasa saja. Semua tergantung kepada Anda, mau pilih yang mana.

Yang patut diingat, saat memasuki kawasan ini aroma amis telur akan langsung terasa di indera penciuman Anda. Tapi di sini pulalah uniknya juga. Obatnya hanya satu, hanya cukup segelas the susu telur. Bagaimana, Anda mau mencobanya?